fbpx

Yakin Plastik Oxo-biodegradable Timbulkan Mikroplastik?

Beberapa waktu belakangan ini, marak bermunculan produk-produk ramah lingkungan yang ditawarkan sebagai solusi untuk permasalahan sampah plastik, salah satunya teknologi oxo-biodegradable. Pun begitu, sebagai salah satu teknologi baru di Indonesia, banyak miskonsepsi yang beredar di masyarakat. Isu-isu seperti oxo-biodegradable timbulkan mikroplastik hingga greenwashing tak luput ikut mengiringi Oxium (plastik oxo-biodegradable) sebagai pionir teknologi oxo-biodegradable di Indonesia.

Betulkah Teknologi Oxo-Biodegradable Menyebabkan Mikroplastik?

Sejak tahun 2009, penelitian aspek biodegradasi pada plastik berteknologi oxo-biodegradable sudah dilakukan. Penelitian tersebut membandingkan plastik oxo dengan plastik konvensional (PE). Hasilnya cukup mengejutkan karena ditemukan jamur setelah melalui proses mineralisasi selama 3 bulan dalam kompos. Selain itu, pertumbuhan fungi juga ditemukan setelah plastik oxo terekspose di alam, yang mana hal tersebut tidak terjadi pada plastik konvensional. Dalam fase abiotik juga ditemukan adanya pertumbuhan bakteri dan hasil penelitian ini  telah dipublikasikan di jurnal “Polymer Degradation and Stability”.

[su_spacer size=”5″]

Tahun-tahun berikutnya yakni 2011, 2013, 2014, 2015, 2018 juga bermunculan berbagai publikasi mengenai teknologi oxo, baik dalam bentuk jurnal maupun hasil uji laboratorium yang semakin menegaskan salahnya persepsi bahwa plastik oxo-biodegradable timbulkan mikroplastik, dan bahkan mampu mengalami proses terurai (degradation) yang sempurna. Selain itu, tidak hanya berhenti di oxodegradasi saja, proses tersebut juga berlanjut hingga biodegradasi dengan hasil akhir CO2, CH4, H2O dan biomassa.

[su_spacer size=”5″]

Penelitian yang sudah dilakukan untuk menguji teknologi telah banyak dilakukan oleh berbagai peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Ojeda et al. (2009)

    Sumber: Abiotic and biotic degradation of oxo-biodegradable polyethylene


    Aspergillus dan Penicillium ditemukan setelah mineralisasi dalam waktu 3 bulan dalam kompos. Selain itu, terjadi pertumbuhan fungi setelah 1 tahun di alam, yang mana tidak ditemukan pada PE konvensional. Dalam fase abiotik, ditemukan bacteria Rhodococcus rhodochrous dan Nocardia asteroides.

    [su_spacer size=”15″]

  2. Balai Pengkajian Bioteknologi (2011)

    Sumber: Biodegradation of UV Exposed Film with Variant to Allow Higher Accuracy in Microbial Population Growth Count Using ASTM G21-09


    Pengujian ini dilakukan untuk melihat proses biodegradasi dari UV exposed Oxium  (Oxium yang sudah terurai) dengan menjadikan Oxium sebagai sumber nutrisi untuk pertumbuhan mikroorganisme.

    [su_spacer size=”5″]

    Secara sederhana, material yang bisa menjadi nutrisi atau sumber makanan bagi mikroorganisme akan menyebabkan organisme tersebut  tumbuh dan meningkatkan populasi, yang pada akhir proses metabolismenya akan menjadi CO2, H2O dan biomassa. Dengan kata lain, material tersebut mampu terurai secara biologis atau biodegradable melalui aktivitas mikroorganisme.
    [su_spacer size=”5″]
    Laporan hasil pengujian ini menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah koloni mikroorganisme pada plastik yang mengandung Oxium. Pada plastik tanpa Oxium sendiri, peningkatan jumlah koloninya rendah dan cenderung menurun setelah 90 hari kultivasi. Selain itu, peningkatan konsentrasi Oxium sebagai sumber nutrisi mikroorganisme juga sejalan dengan peningkatan pertumbuhan populasi. Artinya, pengujian ini mengkonfirmasi bahwa Oxium mampu menjadi nutrisi bagi mikroorganisme dan terbiodegradasi menjadi CO2, H2O dan biomassa.
    [su_spacer size=”15″]

  3. Gomes et al. (2013)

    Sumber: Study of Oxo-biodegradable Polyethylene Degradation in Simulated Soil


    Setelah melalui proses pengomposan pada simulasi tanah, ditemukan mikroorganisme sebagai berikut pada sisa plastik oxo-biodegradable: Geotrichum spp, Mucor spp, Rhizopus spp, Trichoderma spp, Aspergillus niger spp, Zygomycota, Penicillium spp, Nematode, Protozoa.

    [su_spacer size=”15″]

  4. Da Luz (2013)

    Sumber: Degradation of Oxo-Biodegradable Plastic


    Jurnal yang diterbitkan tahun 2013 ini menyatakan bahwa pasca degradasi, plastik oxo-biodegradable menunjukkan performa sebagai berikut: terbentuknya  gugus OH (hidroksil), ikatan karbon oksigen, perubahan visual dan mikroskopik seperti permukaan keriput, adanya lubang, retak, luruh, pudarnya warna serta degradasi mikrobial yang ditunjukkan dengan tumbuhnya Pleurotus ostreatus.

    [su_spacer size=”15″]

  5. Mukamto et al. (2015)

    Sumber: Isolation of Oxo-degradable Polyethylene Degrading-Bacteria of Benowo Landfill Soil Surabaya


    Mukamto et al. telah melakukan penelitian di TPA Benowo, Surabaya dan berhasil mengidentifikasi tumbuhnya Mycobacterium pada film plastik oxo-biodegradable di sana.

    [su_spacer size=”15″]

  6. Laporan Hasil Uji ASTM 6954, BPPT (2018)

    Sumber: Test Report ASTM 6954


    Dalam kurun waktu antara tahun 2014 hingga 2018, BPPT telah menerbitkan laporan pengujian berdasarkan ASTM 6954 dengan sampel plastik oxo-biodegradable. Pengujian tersebut menyimpulkan bahwa plastik oxo-biodegradable berhasil melalui proses biodegradasi yang ditunjukkan dengan terlepasnya CO2 sebesar 60-80%. Hal ini menjadi indikasi jika plastik oxo-biodegradable mampu dikonsumsi oleh mikroorganisme

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *